PENDAHULUAN
Pilkada sebagai salah satu
representasi sistem demokrasi di Indonesia akan kembali digelar bulan Februari
tahun 2017. Beberapa daerah di wilayah nusantara ini akan menghelat pesta lima
tahunan ini secara serentak. Walaupun masih panjang untuk mencapi klimaks dari
pergelaran ini, berbagai elit politik dan kader partai mulai mengambil
ancang-ancang dalam menentukan calon. Konsolidasi dan strategi politik mulai
digalakan demi mengejar kemenangan. Aroma persaingan antar kader parpol dan
elit politik nampaknya kian memanas, walaupun konstituen belum menentukan
pilihan di bilik suara. Saling sikut sudah mulai terasa walupun masih terasa
biasa-biasa saja. Perang opini mulai menghiasi alotnya persaingan politik demi
meraih simpati publik. Beragam politik pencitraan mulai dimainkan untuk saling jegal
demi raih kekuasaan. Kondisi ini sangat tampak jelas dalam pertarungan pilkada
DKI Jakarta. Ada apa dibalik pilkada Jakarta?
PILKADA
JAKARTA: PERTARUNGAN TIGA KOMANDO
Aroma
persaingan berebut kuasa mulai terasa sebelum episode kepemimpinan Ahok-Djarot
dinonaktifkan. Beragam blusukan dan silahturahmi politik mulai digalakan demi
pencitraan dan meraih dukungan. Para politisi mulai sibuk mencari kawan untuk
membangun koalisi dan strategi. Setelah melewati berbagai penjajakan dan
komunikasi politik, akhirnya KPUD menetapkan tiga pasangan calon yang akan
bertarung di pilkada Jakarta, yakni: Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki
Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Ketiga
pasangan calon di atas adalah representasi dari tiga koalisi besar dalam peta
politik pilkada Jakarta. Pasangan petahana, Ahok-Djarot adalah representasi
koalisi PDIP, NASDEM, HANURA, GOLKAR dan PPP kubu Djan Francis yang dikomandani
oleh Megawati Soekarnoputri. Sedangkan pasangan Anies-Sandiaga merupakan
representasi poros kertanegara (GERINDRA dan PKS) yang dikomandani oleh Prabowo
Subianto. Selanjutnya pasangan Agus-Sylvi sebagai representasi poros cikeas (DEMOKRAT,
PAN, PKB dan PPP) yang dikomandani Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bila diamati
lebih jauh, pertarungan tiga koalisi adalah gambaran tentang pertarungan tiga
komando besar dari setiap koalisi. Pertarungan ketiga figur politik ini
bukanlah hal yang baru dalam dunia politik tanah air.
Pilkada
Jakarta bisa dilihat sebagai arena balas dendam politik dari Prabowo kepada
Megawati. Hal ini terkait dengan kisah persaingan mereka yang cukup seru dalam
pilpres 2014 silam. Sedangkan rivalitas Mega dan SBY berkaitan dengan dua
kekalahan telak yang diderita Mega dalam gelaran pilpres terdahulu. Hal ini
juga masih terasa dalam suasana di parlemen, yang mana kedua kubu berada pada dua
kutub yang berbeda.
POLITIK
PENJEGALAN
Kisruh
pilkada Jakarta dimulai dengan isu berbau SARA yang terlontar dari mulut sang
petahan dalam sambutannya di Kepulauan Seribu yang diunggah ke media sosial. Berbagai
reaksi datang silih berganti ulama, pemuka agama dan ormas Islam. Semuanya
menuntut agar pemerintah dan aparat penegak hukum segera menindak Ahok dalam
kasus penistaan agama. Tuntutan itu kemudian berujung pada aksi damai 4
November yang berakhir ricuh.
Kisah
Ahok di atas dapat dilihat sebagai bentuk politik penjegalan yang sedang
dirancang oleh aktor-aktor politik tertentu. Penjegalan dini tentunya menjadi
aksi yang paling tepat untuk menjegal langkah sang petahana untuk kembali
berkuasa. Mengapa? Sejak awalnya, tingkat elektabilitas Ahok tidak tersaingi
oleh lawan-lawannya. Dua pasangan calon lainnya belum bisa menyaingi
Ahok-Djarot. Untuk mengatasi ini, momen di Kepulauan Seribu dijadikan senjata ampuh
untuk menjegal Ahok-Djarot. Isu membela agama mulai dimainkan untuk memantik
kemarahan umat Islam. Singkat cerita, citra dan elektabilitas Ahok terus
merosot. Kampanyenya banyak ditolak dan diusik oleh warga.
Banyak
pihak yang melihat bahwa kasus Ahok merupakan skenario yang disusun poros
cikeas untuk memuluskan jalan jagoannya. Dua hari sebelum aksi damai tersebut,
SBY menggelar konferensi pers di puri cikeas yang mana menekankan tentang ‘koreksi
kepada pemerintahan’ dan penanganan kasus Ahok. Secara tidak langsung, hal ini
merupakan upaya untuk menjegal langkah Ahok di pilkada Jakarta.
UPAYA
KUDETA JALANAN
Pasca aksi damai pada 4 November, presiden
mengeluarkan pernyataan bahwa ada aktor-aktor politik yang menunggangi aksi itu.
Aksi itu juga disinyalir sebagai upaya untuk menjatuhkan pemerintahan. Hal ini
dapat dilihat dari berbagai macam orasi berbau kebencian dan penghinaan yang
mengarah kepada presiden. Substansi dari aksi itu disabotase. Aksi penuntutan
penegakan hukum berubah menjadi usaha menebar kebencian dan berbau SARA. Hal
ini bisa dilihat dari orasi Fahri Hamzah tentang parlemen ruangan dan jalanan
serta cara untuk menjatuhkan presiden. Wakil ketua DPR RI itu adalah kader
partai PKS, partai yang oposisi di dalam parlemen.
Selain
itu ada juga sosok Fadli Zon, politisi kontroversial milik Partai Gerindra. Dia
adalah sosok yang paling militan dari kubu Prabowo-Hatta dalam pilpres 2014.
Pernyataannya saat itu sering menyerang Presiden Jokowi. Fadli juga adalah sosok
penantang Ahok dalam berbagai kasus yang terjadi di Jakarta, mulai dari kasus
sumber waras dan reklamasi pulau. Ada juga sosok Rizieq Shihab, ketua FPI yang
tak lain adalah seteru Ahok. Orasi-orasi mereka memantik kemarahan masa dengan
menuding presiden sebagai sosok sombong yang menolak bertemu rakyatnya, tidak
menghargai habib dan ulama.
Aksi
rusuh di depan istana kepresidenan yang adalah simbol kekuasaan presiden dan
pemerintahan, merupakan upaya kudeta.
PENUTUP
Pilkada Jakarta adalah barometer
perpolitikan bangsa ini. Semua mata anak bangsa terarah padanya. Di sana bukan
saja saling beradu visi-misi, tetapi juga saling sikut demi berebut kuasa. Di
sana bukan saja pertarungan tiga pasangan calon, tetapi juga perang tiga
komando. Wacana umum yang berada di pusara politik ibukota sebenarnya adalah
usaha pengalihan kekuasaan dengan menjatuhkan pemerintahan. Kasus Ahok hanyalah
sebuah batu loncatan bagi para dua komando lainnya untuk memuluskan sebuah
tujuan di masa mendatang (pilpres 2019).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar